Mengapa Bill Gates Menjadi Korban Teori Konspirasi Corona?

Begitu pula masyarakat di Timur Tengah seperti Arab Saudi dan Iran. Mahfud juga membantah bahwa COVID-19 adalah tentara Allah untuk menghabisi orang kafir seperti isu yang sempat berhembus beberapa waktu lalu di kalangan masyarakat. Dia mengatakan, COVID-19 ini tidak akan melihat apakah yang terpapar rajin beribadah atau tidak. Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah , Teten Masduki mengapresiasi, kolaborasi Grab dan Emtek dalam memperluas inklusi digital dan finansial di Indonesia. Dia berharap kerja sama ini mampu membawa 30 juta pelaku UMKM masuk ekosistem digital di 2024.

Mengapa banyak konspirasi mengenai covid

Hasil survei justru menunjukkan masyarakat yang ragu-ragu terhadap teori konspirasi justru mendominasi. Teori konspirasi kedua sampai keenam didominasi masyarakat yang ragu-ragu dengan persentase 50 sampai 87 persen. Menurut Amelinda Pandu Kusumaningtyas, peneliti senior CfDS UGM, teori konspirasi yang paling banyak dipercaya masyarakat adalah teori pertama dan keenam. Dari survei yang dilakukan terdapat 30 persen orang yang mempercayai teori konpirasi pertama dan 15 persen mempercayai teori konspirasi keenam. Rekam jejak Siti Fadilah Supari cukup lekat dengan teori konspirasi.

Pemprov DKI Jakarta selalu membuka pintu kolaborasi, tidak hanya kepada perusahaan startup, tetapi juga kepada individu-individu yang merasa memiliki gagasan atau solusi untuk pengembangan kota Jakarta. Misalnya, di tengah pandemi seperti sekarang, kamu bisa menyumbangkan peralatan medis atau bahan makanan melalui JDCN. Karena setiap partisipasi dan kontribusi yang kamu berikan, akan ikut membantu menjadikan kota Jakarta yang lebih maju dan membahagiakan warga-warganya. Mengatasi permasalahan yang selama ini terjadi di Jakarta tidak cukup dengan mengandalkan tenaga manusia saja, apalagi di tengah pandemi COVID-19 seperti sekarang.

Alexandra juga menjelaskan situasi ini dengan telaah teori Maslow yang menjelaskan terdapat lima kebutuhan fundamental manusia yang bentuknya segitiga dengan tingkatan. Tingkatan ini terdiri dari kebutuhan fisik, rasa aman, cinta, harga diri, dan puncaknya adalah aktualisasi. Reporter AFP menghabiskan waktu berbulan-bulan melihat arah bergulirnya teori konspirasi di Eropa, mulai dari pendukung gerakan QAnon, ultra-evangelis dan anti-vaxxer, hingga populis sayap kanan, pengangguran, dan bahkan dokter. Jika kebenaran tidak memenuhi kebutuhan itu, manusia memiliki kapasitas yang luar biasa untuk dapat menciptakan cerita. “Para ahli teori konspirasi menyusun pseudosain yang dideskritkan sebagai tandingan keilmuan nyata,” kata Renee DiResta, seorang peneliti disinformasi di Stanford Internet Observatory. Michael Joseph Mina, seorang dokter dan profesor epidemiologi di sekolah kesehatan masyarakat Harvard, mengatakan tidak benar bahwa sebagian besar tes PCR virus korona adalah positif palsu dan tidak menguji virus.

“Dari temuan ini kami menyimpulkan, sosialisasi maupun edukasi terhadap masyarakat terkait virus Covid-19 masih penting untuk terus digencarkan,” ucapnya. Terkait hal itu, Haedar Nashir menyebut jika para ilmuwan dikenal sebagai kelompok yang memiliki standar ketat dalam memutuskan perkara. Anggota tim WHO yang mengunjungi China awal tahun ini untuk mencari asal-usul COVID-19 mengatakan bahwa mereka tidak memiliki akses ke semua information, mendorong perdebatan terus-menerus tentang transparansi negara tersebut. Ini bisa menjadi faktor mengapa banyak orang yang tidak percaya dengan sistem kerja pemerintah maupun tim medis dalam menjalankan tugasnya.

Ia mengatakan, ada banyak konspirasi ketika Covid-19 mulai muncul 10 bulan lalu. “Ada juga yang yakin bahwa Virus Corona berasal dari laboratorium, sebuah teori yang tidak ada bukti yang disajikan,” demikian keterangan resmi King’s College London dan Ipsos MORI, seperti dikutip dari situs Russia Today, Sabtu, 20 Juni 2020. Pertama, Daftar Situs Judi Slot Terpercaya 2021 motif epistemik atau didasarkan pada dorongan untuk memahami kondisi lingkungan seseorang. Kedua, motif eksistensialis yang didorong kebutuhan untuk merasa nyaman dan “berkuasa” atas kehidupannya sendiri. Terakhir, motif sosial atau didorong hasrat untuk mempertahankan imaji positif tentang diri sendiri atau kelompoknya.

Terlepas dari semua itu, dalam setiap masalah sosial yang melibatkan banyak orang, teori konspirasi memang akan selalu hadir dan jadi penghias, baik itu di Indonesia atapun dunia. Untuk itu hendaknya kita lebih bijak dalam memilah informasi-informasi yang kita terima agar tidak semakin memperkeruh keadaan terutama jika informasi tersebut belum dapat dipastikan kebenarannya. Mayarakat yang etnosentris dan bingung saja sudah cukup untuk mempercayai sebuah teori konspirasi apalagi jika ditambah ketakutan terhadap pandemi, terlebih adanya bukti-bukti yang juga masuk akal, akan sangat sulit untuk menolak teori konspirasi. Jika hal ini terjadi terus menerus, yang dirugikan pasti selalu masyarakat. Bukannya bekerja sama menanggulangi pandemi, masyarakat akan sibuk melemparkan teori konspirasi dan saling menyulut emosi masing-masing.